A Friendly Reminder


Continue >>>

Sydney IMAX 3D


Menyebut dirinya layar terbesar di dunia, LG Imax Theatre di Sydney kebetulan menayangkan film fenomenal Avatar dalam format 3D saat saya berkunjung ke kota itu. Tentu harus dicoba, nih. Sebelum berangkat, sempat cari info untuk pemesanan online. Namun berhubung harus ada nomor kontak lokal, plus ada biaya tambahan dan jadwal saya di sana yang belum pasti, akhirnya baru beli waktu hari pertama sampai di sana. Untung juga, karena ternyata ada potongan 20% di guide book gratisan yang bisa diambil di bandara, hotel & tempat informasi turis.

Memang dasar film laris, seminggu ke depan kursi yang tersedia tinggal sedikit dan pastinya di posisi yang kurang strategis. Akhirnya saya dapat di baris tengah paling kanan. Tidak terlalu buruk, leher tidak sampai pegal. Waktu pertama masuk dan melihat layarnya, sepertinya ukurannya tidak beda jauh dengan Keong Emas. Bedanya format film di TMII sama seperti bioskop biasa (widescreen) jadi gambar terpotong banyak di bagian atas dan bawah. Di Sydney walaupun formatnya mengikuti bentuk layar yang agak kotak, tetap saja layar hanya terisi sekitar 3/4nya. Tidak yakin juga apakah itu format widescreen yang ditambah bagian atas dan bawahnya atau justru dipotong kiri kanannya.

Sayangnya, teknologi 3D di sini bukan realD. Kalau di Jakarta, mungkin mirip dengan 3D di 21 atau XXI, rada gelap dan kurang berasa perspektif 3Dnya. Padahal sudah berharap adegan terbangnya bakal seru.

Dari segi sound juga tidak ada yang istimewa.
Continue >>>

Journey to the OZ


Akhirnya ada visa yang ditempel di paspor saya!


Dalam rangka aji mumpung, tujuan liburan kali ini adalah kota Sydney & Melbourne dengan menumpang kamar hotel suami yang mau ujian CCIE. Agak kuatir sebenernya kalo inget rekor cuaca Sydney di musim panas (50 derajat aja) plus sensitifnya saya sama matahari. Beberapa minggu sebelum berangkat sudah ada berita kebakaran liar di sekitar Perth. Untungnya, taun ini iklim berpihak pada saya dengan melampiaskan winter gila di Eropa dan mengirimkan hujan2 kecil ke belahan selatan. Yey!

Perjalanan ini hanya selang beberapa minggu dengan insiden teror di pesawat Amerika. Kabarnya banyak airport yang memperketat pengamanan. Penasaran juga bakal diperiksa seperti apa berhubung negara yg mau saya kunjungi ini suka norak ikut-ikutan Paman Sam. Ternyata prosedurnya cukup standar. Terbang dengan Qantas lumayan nyaman. Baru tahu kalau bahasa kedua yang dipakai saat pengumuman adalah bahasa lokal. Jadilah salah satu pramugaranya berceloteh dengan Bahasa Indonesia patah-patah dan logat bule kemelayu-melayuan ^^.

Sampai di Sydney, saya kedinginan. Walaupun matahari cukup cerah, anginnya lumayan dingin. Jadi maklumlah banyak orang yang jogging jam 2 siang, menanjak bukit pula. Ngomong-ngomong bukit, jalan-jalan di kota ini cukup menyiksa betis juga. Herannya, para wanitanya tetap setia dengan high heels. Kudos! Orang-orang di kota ini cukup helpful meski kelihatan agak jutek. Suka banget sama cara mereka menjawab terima kasih dengan "No worries" atau mengganti OK dengan "Cool!".

Sebagai pencinta laut & santai di pantai, lumayan semangat juga waktu mau melihat Samudra Pasifik, perairan bebas terbesar di bumi ini untuk pertama kalinya. Sayangnya, belum sempet nyebur di Great Barrier... next time.. Setelah sempat nyasar sedikit, akhirnya sampai di Bronte. Indahnya... pantai pasir putihnya tidak terlalu besar tapi dikelilingi tebing-tebing dengan rumah pantai berjejer. Airnya gradasi turquoise ke biru dan berkilatan di bawah cahaya matahari. Ombaknya juga seru, jadi banyak juga surfer bertebaran terombang-ambing tidak jauh dari pantai. Puasnya dapat pemandangan begini, hitung-hitung pelipur lara sebelum bisa ke Santorini :P

Di sepanjang sisi ini, ada coastal walk yang menghubungkan Bronte dengan beberapa pantai lain. Tadinya berambisi jalan dari Bondi ke Coogee. Berhubung nyasar dan mendarat di Bronte dan kaki yang masih pegal akibat jalan-jalan hari sebelumnya, akhirnya dari Bronte saya jalan ke utara ke arah Bondi saja. Pemandangan di sepanjang coastal walk ini keren banget. Di beberapa titik disediakan bangku taman yang menghadap laut untuk menikmati pemandangan dan angin semilir. Sampai di Bondi, saya turun untuk berjalan menyusuri pantainya. Pasirnya yang lembut cukup menguji ketabahan iman dan otot kaki. Pantas saja kebanyakan yang datang ke sana hanya bergelimpangan tanning di pantainya, dengan atau tanpa atasan :P

Tujuan di hari berikutnya: Royal Botanic Garden, taman besar yang menghadap Harbour Bridge & Opera House. Di Down Under sini banyak taman dan udaranya bersih, jadi iri dengan para pegawai di sana yang bisa istirahat makan siang sambil tidur-tiduran di taman dikelilingi burung-burung. Pangeran William kabarnya mau berkunjung ke taman ini, tapi sampai saya pergi suasananya masih belum ramai. Dari situ saya menuju ke pusat kota untuk melihat-lihat tempat belanja. Sayangnya, saya tidak dapat buruan karena barang yang terjangkau kebanyakan bukan buatan Australia (baca: Made in China). What's the point, right?

Besoknya saya mampir The Rocks untuk melihat jejeran gedung-gedung bata bergaya lama sebelum naik feri ke Taronga Zoo. Sebenernya agak malas datang ke atraksi yang harus bayar tiket masuk. Toh, di tempat lain juga ada atraksi sejenis. Tapi kebun binatang ini dibangun di bukit yang menghadap harbour, jadi asik juga bisa melihat skyline Sydney dari sana. Sekalian juga nengok para penduduk asli benua kecil ini, koala & kangguru yang ternyata sangat-sangat pemalas. Seru juga melihat singa laut NZ yang ukurannya lumayan besar.



Esok harinya kami berangkat pagi-pagi ke tempat jemputan bus ke drop zone di daerah Wollongong, sekitar sejam dari Sydney. Yang stres habis ujian mau terjun tandem dari pesawat. Pingin juga, sih nyoba kapan-kapan kalau lagi mood. Sorenya ke IMAX Theatre di Darling Harbour buat nonton Avatar 3D. Cerita soal nontonnya di-post kepisah, ya. Selain ada teater, Darling Harbour ini lumayan enak buat nongkrong. Ada tempat makan, mal, fountain yang sekaligus tempat bermain dan mendinginkan kaki plus beberapa museum.


Pagi berikutnya kami mengejar kereta pagi ke bandara untuk naik pesawat jam 7 ke Melbourne. Mendarat di bandara Avalon yang agak jauh di luar kota, middle of nowhere, di tengah padang rumput dan peternakan biri-biri. Untuk ke kota harus naik shuttle bus yang jadwalnya mengikuti jadwal penerbangan, saking sedikitnya yang mendarat di situ. Kabarnya bandara ini sedang di-upgrade untuk jadi bandara internasional, mungkin untuk yang low-budget seperti Tiger Airways. Sejam setelah mendarat sampai di stasiun Southern Cross untuk ketemu teman yang bakal jadi guide hari itu. Wiken pagi di sana sepi, orang-orang baru keluar setelah lewat makan siang.

Sepanjang hari kami jalan kaki keliling pusat kota, menyusuri sungai Yarra (yang agak bikin ilfil karena airnya butek ^^) dan beli oleh-oleh suvenir Australian Open buat bokap. Sore terbang lagi ke Sydney buat pulang besok sorenya.

So that's 3 continents down, 4 to go...
Continue >>>

End of a Decade


These are the weeks of "Top Ten in 2009", "Best of the Decade" and "Top Ten Reasons to Stand by Luna Maya". Okay, the last one isn't as popular but it's buzzing nonetheless. This is my first decade as an adult, so to speak, which makes it a bit... duller than the previous two I lived by. Can't say I expected that since I was hoping that by understanding things a bit better, things would get more exciting. Then again, the rocking '80s and the broad shoulders of the '90s are hard to compete anyways.

So here's my point of view of the '00s.
First, despite the absence of flying cars and the still existing Kopajas (can we please exterminate that by the next decade? pretty please?), technology has surely transformed the way we live, at least socially if not so much physically. Take the impact of one tweet from the above mentioned subject for example. Who would've guessed that you can reform the journalism ethics by less than 140 characters?

Next come the economy. Boy, aren't those derivatives dangerous. The international connectivity and the impact it's bringing is staggering. I wonder whether things will stabilize over the next decade or two, or whether flux is something we're about to get used to.

Early on, terror acts got big. The good side is people quickly adapted. Not by announcing unnecessary wars, but by the instilling the rejection to be afraid or by fighting the actor head on like in recent attack. Aside from the diminishing main actor, hopefully terrorism will simply be outdated as its effect won't be as big.

Continue >>>

Irreplaceable


The best paid people are the ones doing what no one else can. So it sounds like a decent career goal, except that I am much too aware of the contra fact that there is no such thing as free lunch. Being "the one" could simply mean giving up your life, since in any given circumstances there may be no one to cover for you. As one who loves one's life, I've been positioning myself as, well, replaceable, which may not be wise in some turbulent times. It would be nice to indulge one's ego to be known as the best, though it would be a tremendous challenge when there are two in a family.

Hence, I think I'm currently lacking so called ambition.
Continue >>>

A Love Before Time


If the sky opened up for me
And the mountains disappeared,
If the seas ran dry, turned to dust
And the sun refused to rise
I would still find my way
By the light I see in your eyes
The world I know fades away
But you stay

As the earth reclaims it due
And the cycle starts anew
We'll stay, always
In the love that we have
Shared before time

If the years take away
Every memory that I have
I would still know the way
That would lead me back to your side
The north star may die
But the light that I see in your eyes
Will burn there always

Lit by the love we have
Shared before time

When the forest turns to jade
And the stories that we've made
Dissolve away
One shining light will still remain

When we shed our earthly skin
And when our real life begins
There'll be no shame
Just the love that we
have made before time

-- Coco Lee, OST "Crouching Tiger Hidden Dragon"
~menye mode ON
Continue >>>

Babushka Pasopati


Today I've got to say the coolest answer, ever, to my mom's "Where are you?": In a submarine.

From Monkasel


Setelah berkali-kali ke Surabaya dan menginap beberapa langkah dari tempat ini, akhirnya kesampaian juga mampir ke Monumen Kapal Selam. Waktu lewat siang harinya, jiper juga lihat antrian di tangga masuk. Populer juga tempat ini rupanya. Untung juga kita ke situ malam, lebih sepi dan dapat ruang bernafas. Yap, di dalam kapal tua itu masih panas walaupun sudah dipasang AC di beberapa sudut. Ga kebayang cerita pemandu yang juga mantan petugas komunikasi kapal itu yang bilang suhu di ruang mesin bisa sampai 40 derajat Celcius dan berhubung persediaan air tawar terbatas, awak kapal tidak mandi selama belum merapat ke darat. Oksigen juga terbatas, ngobrol pun dibatasi. Pantas saja moto mereka Tabah Sampai Akhir ^^.
Continue >>>

Stuff

www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from crackinjaq. Make your own badge here.



 

// alveta rorio ♣ ♣ ♣ Mamanunes Templates ♣ ♣ ♣ Inspiração: Templates Ipietoon
Ilustração: Gatinhos - tubes by Jazzel (Site desativado)